KARAWANG ONLINE

cara membuat website, download, music, softwear, Tips `n Trik, ebook, game semuanya FREE Gratiss

peristiwa demi peristiwa islam selalu tercoreng

Peristiwa Monas menebalkan stigma atas kelompok Islam sebagai pelaku kekerasan berkedok agama. Kenyataannya, dalam kerusuhan-kerusuhan besar di negeri ini, kelompok Islam lebih banyak menjadi objek dan korban.

Data Bappenas dan PBB menyebutkan, dalam kurun 1997-2004 telah meletus 3.600 konflik di Indonesia. Demikian pernah diungkap-kan staf Menko Politik Hukum dan Keamanan, Ir Sudharmadi WS MM.

"Sangat memprihatinkan, dalam waktu tujuh tahun ada 3600 konflik di bumi Pancasila ini," ujarnya (kapanlagi.com, 15/3/2005). ( watch Dialog Pluralisme Habib Rizieq )

Situbondo, Tasikmalaya, dan Rengasdengklok, 11 Pebruari 1997
Kerusuhan Situbondo dan Tasikma-laya, menurut psikolog Sarlito Wirawan Sarwono (Kompas, 27 Januari 1997) diprovokasi oleh khutbah-khutbah kebencian para Kyai. Menurut Sarlito, gerakan anti-Kristen ini merupakan produk Orde Baru, seperti tecermin dalam UU Perkawinan yang tidak merestui pasangan beda-agama.

Namun berdasarkan investigasi KIS-DI, latar kerusuhan tidak seperti itu. Ada sejumlah faktor yang menyebabkan rusuh. Pertama, kesenjangan sosial, ekonomi, dan pendidikan yang parah. Dan diperparah dengan sikap eksklusif serta overacting kaum “the have” dari kalangan Kristen dan China.

Kedua, ada persoalan dalam penye-baran agama Kristen di tahun 1970 dan 1980-an. Anehnya, pihak Kristen selalu menolak adanya gerakan Kristenisasi ini. Padahal, umat Islam di bawah merasakan langsung overactingnya para misionaris dalam menyebarkan agamanya.

Sebagai contoh, di kota santri Situbondo, dari sekitar 30 gereja yang rusak, hanya 4 yang memiliki izin. Di Rengasdengklok, menurut MUI setempat, masalah gereja ini ibarat bom waktu yang siap meledak setiap saat. Di kota ini, kolusi Kristen dan Cina berlangsung transparan dalam penyebaran agama.

35d6oht.jpg

Tentara berbicara dgn seorang warga saat kerusuhan Rengasdengklok


Massa yg menunggu diluar gedung pengadilan, Tasikmalaya
Di kota santri Tasikmalaya, ada 18 gereja berdiri megah dengan formasi bangunan, menurut kalangan Muslim setempat, adalah “gereja mengepung masjid”. Ini aneh, mengingat jumlah penduduk Kristen sangat kecil. Data statistik tahun 1997 menunjukkan, penduduk Muslim 1,5 juta jiwa, Protestan 1.900 jiwa, Katolik 1.900 jiwa, Hindu 285 jiwa, Budha 1969 jiwa, dan Konghucu 1.113 jiwa.

Selama itu umat Islam bukannya berdiam diri. Seperti kasus protes warga Tasik terhadap gereja yang dijadikan rumah di Jl. Gang Karangmanis No.2/4 Tasikmalaya. Bupati dan Walikota Administratif Tasik kemudian menge-luarkan larangan. Tetapi, tidak digubris oleh pihak gereja. Bahkan Gereja Priangan Timur mengeluarkan surat teguran kepada walikota dan mengim-baunya agar lebih menghayati Pancasila.

Ketiga, sikap arogansi kekuasaan dan kebrobrokan birokrasi pemerintah. Sudah lama rakyat melihat dan merasa-kan hal ini. Mereka melihat, orang-orang China begitu mudah mengurus KTP, paspor, dll. Sementara calon TKI diperas habis-habisan dan dipersulit. Suatu ketika, rakyat tidak takut lagi dan secara serentak menyerang aparat pemerintah, karena sudah terlalu jengkel.

Keempat, rekayasa pihak tertentu untuk mencapai tujuan politiknya. Ini sulit dibuktikan, meskipun mereka terlihat jelas saat terjadinya kerusuhan. Logikanya, pihak ini adalah yang menginginkan situasi tidak terkendali, menjatuhkan pemerintah, mengacau kondisi ekonomi, menciptakan citra buruk terhadap umat Islam, mengadu domba antar umat Islam, dan menarik perhatian dan simpati luar negeri (Kristen Barat).


Kronologis versi Tempo

Kerusuhan Jakarta, 13-14 Mei 1998


Jangan Lupakan 12 Mei 1998
Kerusuhan membakar Jakarta pada 13-15 Mei 1998. Muncul kemudian isyu perkosaan massal terhadap wanita-wanita China, yang katanya juga dilaku-kan di tengah keramaian seperti di pinggiran jalan tol menuju Bandara Soekarno-Hatta. Di internet, isyu ini dilengkapi dengan foto adegan perkosaan dan penyiksaan, yang belakangan terbukti manipulatif.

Majalah Jakarta-Jakarta No. 609, edisi Juli 1998, menurunkan artikel provokatif dan manipulatif yang ditulis FX Rudy Gunawan. Dalam artikel di halaman 68-69 itu, Gunawan mencomot cerita dari internet tentang tiga perem-puan China yang mengaku sebagai korban perkosaan dalam kerusuham Mei 1998. Menurut pengakuan ketiga wanita yang disebut Vivian, Vera and Veni, itu, si pemerkosa mengatakan, ''Kamu harus diperkosa karena kamu China dan Non-Muslim.”

Rudi juga mengutip The Guardian, yang menulis ''kesaksian'' para pemerkosa massal dalam kerusuhan medio Mei 1998, sebelum beraksi meneriakkan takbir ''Allahu Akbar, Allahu Akbar''.

KISDI pimpinan Ahmad Sumargono menggugat tulisan yang datanya absurd dan tendensius itu.

The New York Times edisi 20 Mei 1998, mengungkapkan bagaimana AS terlibat dalam kerusuhan di Indonesia ini untuk menjatuhkan Soeharto. Dalam laporan berjudul: Unrest in Indonesia: The Opposition; US has spent $26 Million Since '95 on Suharto Opponents , itu, disebutkan bahwa Adnan Buyung Nasu-tion, waktu itu Ketua YLBHI, menerima duit 26 juta dolar Amerika untuk membiayai proyek tersebut.

Dalam dokumen TGPF (Tim Gabu-ngan Pencari Fakta), terungkap bahwa ketika berdebat tentang ada tidaknya fakta perkosaan massal yang tengah di-ulik, seorang pimpinan TGPF menya-takan kepada rekannya: ''Jangankan satu kasus, setengah kasus pun cukup.''

Kerusuhan Ketapang, Jakarta Pusat, 22 November 1998


Para Tokoh Agama membujuk masyarakat utk tidak anarkis
Awalnya, Irfan, pemuda 22 tahun, bersama ayahnya, Zainuddin, pada malam 21 November dihajar beberapa orang preman beretnis Ambon, yang menjadi centeng di rumah judi bola ketangkasan di kawasan Ketapang. Zainuddin dan Irfan babak belur.

Dini hari kemudian, 22 November, sekitar pukul 03.00 WIB, sekelompok preman Ambon tiba-tiba datang menyer-bu wilayah RW 01 yang berpenduduk 300-an jiwa. Sebuah masjid menjadi sasaran amuk penyerang.

Bentrokan tak terhindarkan. Masing-masing menggunakan senjata tajam. Sebelum subuh, para penyerang mundur. Usai subuh, tak kurang dari 200-an preman Ambon yang berkulit gelap dengan rambut keriting, lengkap dengan senjata tajam seperti golok dan samurai menyerbu lagi.

Warga dibantu FPI, menghadapi serbuan tersebut. Penyerbu kocar-kacir, mundur dan dikejar hingga menjauh.

Rumah judi yang menjadi sarang preman dihancurkan. Turut menjadi korban, 21 gereja dan lima sekolah yang dikelola umat Katolik dan Protestan, sebuah bank dan hotel, kantor Koramil, tujuh rumah penduduk, serta satu masjid hancur dirusak massa. Korban jiwa 13 orang, dan 15 luka berat serta cedera.

Tanpa melihat akar persoalan dan kronologi peristiwa itu, media massa asing memuat besar-besar foto para preman yang sedang dikeroyok oleh warga dan FPI hingga tewas.

6pw1nq.jpg

Preman yang dihakimi massa yg berujung kematian

Kerusuhan Kupang, NTT, 30 November-1 Desember 1998


Transkrip Pidato Theo Sjafei Tentang Negara Islam Tahun 2005

Kasus Ketapang ''dibalas'' dengan Kasus Kupang
Masjid Al Hidayah yang dirusak/ dibakar dalam kerusuhan Kupang
, Nusa Tenggara Timur. Awalnya adalah acara perkabungan nasional yang diprakarsai para pemuda Katolik dan Protestan, yang tergabung dalam organisasi Pemuda Katolik, Gerakan Angkatan Muda Kristen Indone-sia, Gerakan Mahasiswa Kristen Indone-sia, dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia. Acara ini dikaitkan dengan kerusuhan di Ketapang.

Sebagai pembicara, Mayjen (purn) Theo Sjafei membakar emosi massa . Dengan manipulatif dia menggambarkan seolah-olah Indonesia sedang menuju Negara Agama (Islam) yang mengancam eksistensi pemeluk agama lain.

Ratusan massa tak bisa mengelakkan ajakan sang provokator untuk berbuat rusuh. Lima masjid dirusak dan empat lainnya dibakar. Satu asrama haji dan satu mushala juga dibakar. Sebanyak 23 rumah warga dan tiga ruko serta 30 kendaraan bermotor milik warga muslim, dihancurkan serta dibakar.

Dari Kupang, kerusuhan merembet ke beberapa daerah di wilayah NTT, seperti Soe dan Baa, Pulau Rote. Sasarannya pun sama: masjid, mushala, madrasah, dan kediaman warga muslim.

Kerusuhan Ambon, 19 Januari 1999-2001


Baca Buku Rustam Kastor : Konspirasi RMS dan Kristen Menghancurkan Umat Islam di Ambon


Baca Buku Rustam Kastor : Konspirasi RMS dan Kristen Menghancurkan Umat Islam di Ambon
Ketika umat Islam tengah shalat Iedul Fitri, umat Nasrani menyerbu. Konflik Ambon pun meletus. Dalam tragedi yang telah mengorbankan ratusan jiwa kaum Muslim, setidaknya ada 5 (lima) pihak yang ikut bermain. Pertama, RMS, yang mendeklarasikan kemerdekaan RMS pada 18 Desember 2000.

Mantan Komandan Korem 174 Patti-mura, Rustam Kastor, dalam bukunya ''Fakta, Data dan Analisa, Konspirasi Politik RMS Dan Kristen Menghancurkan Ummat Islam di Ambon-Maluku'' (Wih-dah Press, 2000), menyebut beberapa dokumen penting tentang keterlibatan RMS dalam kerusuhan Ambon. Misalnya surat permohonan bantuan dana dari Presidium Sementara RMS-Ambon kepada warga asal Maluku di perantauan. Surat itu bernomor 02/PS.05.1/XI/98 dan bertanggal 14 November 1998, diteken O Pattarima, SH, selaku Ketua Presidium Sementara RMS-Ambon dan Sekjennya Drs. Ch. Patasiwa.

Presiden RMS di pengasingan yaitu Dokter Tutuhatunewa (76), seperti di kutip Tempo edisi 26 Desember 1999 bakhan telah mengucurkan dana perang ke Maluku.

Kedua, kaum Kristen Ambon. Sebagaimana diketahui, sejak Front Kedaulatan Maluku (FKM) memprokla-mirkan kemerdekaan bagi Republik Maluku Selatan (RMS) pada tanggal 18/12 2000 lalu, hingga kini tidak ada satu tokoh Kristen yang menentang pendek-larasian itu. Hal ini wajar karena yang berada di belakang FKM adalah orang-orang Kristen Ambon sendiri.

Ketiga, Batalyon Gabungan atau Yon Gab. Menurut keterangan Kapuspen TNI Marsda Graito Usodo, sebagaimana dikutip Koordinator Kontras, Munir, Yon Gab dibentuk secara khusus; dilantik dan dilatih di Jakarta untuk melakukan operasi-operasi shock theraphy dan “mem-back up” aparat di wilayah Maluku dan berada di bawah komando Pangdam Pattimura. “Itu artinya,” kata Munir, “metode kerja dan perintah kerja itu langsung dari Jakarta.” (TEMPO Inter-aktif, 22/6/2001).

Sekitar 22 jiwa kaum Muslim mela-yang akibat berondongan peluru pasukan Yon Gab yang beranggota prajurit elite Paskhas, Kopassus, dan Marinir (Media Indonesia, 26/6/2011). Dalam peristiwa yang berlangsung Kamis (14/6/2001) di Kebun Cengkeh Ambon itu, kebanyakan korban yang meninggal adalah orang-orang yang sedang sakit dan dirawat di Poliklinik Laskar Jihad Ahlussunnah Wal Jamaah (Republika, Jumat, 22/6/ 2001).

Yang tak kalah menyakitkan, Yon Gab juga disinyalir telah secara sengaja menginjak-injak dan merobek-robek al-Quran (Republika, 26/06/2001).

Keempat, penguasa, termasuk para wakil rakyat. Meskipun tidak secara langsung, diamnya pemerintah, terutama yang selama ini ditunjukkan oleh Pre-siden Abdurrahman Wahid (juga DPR), menjadi bukti bahwa penguasa sengaja ataupun tidak turut berperan dalam memperpanjang konflik dan penderitaan kaum Muslim di Ambon. Gus Dur melarang Laskar Jihad ke Ambon, dan membiarkan Ambon untuk menyele-saikan sendiri masalahnya.

Kelima, pihak asing. Yaitu Belanda yang sejak lama memang menyokong gerakan RMS. Lalu, secara tidak lang-sung, pemerintah AS juga disinyalir ikut bermain dalam berbagai konflik yang terjadi di Indonesia, termasuk Ambon. Hal ini diungkapkan Dr. AC Manullang, Mantan Direktur Intelejen BAKIN. Dalam wawancaranya dengan Koran Tempo, ia menyatakan bahwa ada keterlibatan CIA dalam berbagai kerusuhan seperti di Aceh, Sampit, Kapuas, Pangkalan Bun, Ambon, Irian, dan daerah lain. Tujuannya adalah agar Indonesia chaos (Koran Tempo, 20/4/2001).

Poso, Desember 1998-2006


H. Rachmat Basoeki Soeropranoto, Mantan Napol Kasus Peledakan BCA 1984 : Jangan Lupakan Poso


Jangan Lupakan Poso
Pada 25 Desember 1998, Roy Runtu (Kristen) mabuk dan membacok Ridwan (muslim) yang sedang berada di masjid. Bentrokan pun terjadi. Sebanyak 100-an orang luka-luka, tiga sepeda motor dibakar dan sejumlah rumah penduduk rusak. Kerusuhan demi kerusuhan pun meletus hingga beberapa tahun 2007.

Menurut agen International Crisis Group, Sidney Jones, kawasan Maluku dan Poso merupakan ajang jihad dan penegakan syariat Islam bahkan ujicoba untuk pembentukan sebuah negara Islam.

Namun, Brigjen Polisi Oegroseno, mantan Kapolda Sulawesi Tengah, pernah mengingatkan bahwa konflik Poso tak bisa dianggap selesai (setelah Deklarasi Malino) karena suatu saat akan meledak lagi. Hal itu disampaikannya seusai menyerahkan jabatan Kapolda Sulteng kepada Kombes Badrudin Haiti di Mabes Polri, Jakarta, 31 Agustus 2006.

Oegroseno dimutasi setelah sebelum-nya memperlambat eksekusi Tibo cs dan berupaya menyelidiki 16 nama yang disebut Tibo terlibat dalam aksi di Poso. Ke-16 nama tersebut antara lain: Yanis Simangunsong, L Tungkanan, Eric Rombot, Mama Wanti, Luther Maganti, Drs. J. Santo, J. Kambotji, Drs. Sawer Pelima, Pendeta Renaldy Damanik, Paulus Tungkanan, Angki Tungkanan, Lempa Deli, dan Yahya Patiro (mantan Sekab Poso). Termasuk peranan Melly, istri kedua konglomerat Taipan Eka Tjipta Wijaya, yang pada awal-awal konflik Poso disebut-sebut sebagai salah seorang pemasok dana untuk pihak Kristen.

imageTibo dkk juga pernah mengungkap beberapa nama yang disebutnya dengan panggilan “Jenderal” seperti Jenderal H, Jenderal R dan Jenderal T. Jenderal H menurut pengakuan Tibo dkk berperan sebagai aktor intelektual di balik per-tikaian berdarah di Poso.

Sejak 22 September sampai 25 Okto-ber 2006 telah terjadi 11 kali ledakan bom, lima kali penemuan bom, 16 kali pem-bakaran, dan 10 kali perusakan yang terjadi di Poso. Dua di antara bom yang meledak menewaskan dua warga Poso.

Setelah Pendeta Irianto Kongkoli pejabat Ketua Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) ter-tembak mati 16 Oktober 2006, Menko Polhukam Widodo AS dan Kapolri Jen-deral Polisi Sutanto mengatakan, pelaku penembakan itu merupakan bentuk teror. Mabes Polri pun lalu mengirim Densus 88.

Namun reaksi mereka tak sesigap dan segalak ketika dua warga muslim dibunuh oleh amuk massa di Poso, 2 September 2006, sehari pasca eksekusi mati Tibo.

Setelah Densus 88 beraksi, dalam tempo relatif singkat sudah 11 orang Poso diperiksa. Sejumlah nama pun dinya-takan masuk DPO.

Wakil Ketua Komisi III DPR yang membidangi hukum dan HAM, Almuz-zammil Yusuf, mengkritik kepolisian soal pengumuman sejumlah nama pada DPO ini. Menurutnya, pengumuman DPO itu memunculkan kesan polisi sedang me-nyudutkan umat Islam; seolah umat Islam berada di balik berbagai pelanggaran di Poso.

Apalagi, diduga nama-nama itu tidak akurat. Inilah yang menjadi sebab utama terjadinya bentrokan antara anggota Brimob dengan warga pada 22-23 Oktober 2006.

Ketua Forum Silaturahim Perjuangan Umat Islam Poso Adnan Arsal, mengeluh-kan pengepungan polisi terhadap Tanah Runtuh, Gebang Rejo, yang merupakan Kompleks Pesantren Amanah pimpinan-nya. Pengepungan berbuntut bentrokan antar polisi dan warga Gebang Rejo yang menewaskan seorang warga.

Penolakan terhadap pasukan Brimob dan Densus 88, juga terjadi ketika kasus Ambon meledak. Pasalnya, mereka dinilai tidak adil.

Puncak antipati warga Poso terhadap aksi Densus 88 berujung pada insiden penyerangan terhadap empat orang ang-gota pasukan itu pada 8 Mei 2006 yang akan menangkap seorang warga dengan cara koboi.


Fitnahan yang Maha Dahsyat yg dilakukan oleh koran Tempo dan media pro "Liberal" lainnya

Insiden Monas, 1 Juni 2008
Peristiwa Monas, awal Juni lalu, merupakan makar yang melibatkan komplotan Ahmadiyah, Sipilis, aparat keamanan, dan Amerika serta Australia dengan dukungan media yang mereka kuasai. Selain mendiskreditkan ormas Islam (fokusnya FPI) dan tokoh (terutama Habib Rizieq dan Munarman) serta perjuangannya, makar juga untuk meng-alihkan skandal BBM, Bioenergy, dan Namru-2.

''Alhamdulillah,'' Ulil Abshar kegi-rangan melihat FPI dinistakan, dikepung, digeledah, dan aktivisnya ditangkapi polisi.

“Lil, penggerebekan itu cuma tahap awal. Perjuangan harus jalan terus. Preman-preman berjubah dan para simpatisannya masih terus bergen-tayangan, termasuk di milis ini. Jadi, tahanlah dulu alhamdulillah-mu,” tulis Luthfi Assyaukanie, dalam percakapan via email.


Ulama Dinista, Islam Didakwa, Stigma Bengis Dilekatkan Ke Islam
Pemerintah Amerika Serikat melalui kantor Kedutaan Besarnya di Jakarta ikut mengutuk aksi FPI ini. Dalam pernyataan persnya (2/6), Kedubes AS di Jakarta menyebutkan, tindak kekerasan seperti yang dilakukan FPI ini akan berdampak serius terhadap kebebasan beragama dan berkumpul di Indonesia dan akan menimbulkan masalah keamanan.

Melalui korespondennya di Jakarta, Stephen Fitzpatrick, Suratkabar "The Australian" menurunkan berita berjudul "We`ll wage war: Indonesian Muslim hardliners " (Kami Akan Nyatakan Perang: Para Muslim Indonesia Garis Keras".

Aksi kekerasan yang terjadi pada 1 Juni lalu itu merupakan sebuah ironi karena hari itu adalah Hari Lahir Pancasila, ideologi negara yang justru menjamin kebebasan beragama, sebut surat kabar milik raja media Rupert Murdoch ini.

"The Australian" menggunakan istilah "Islamist thugs" (penjahat Islam yang kejam-red.) untuk menyebut para pengikut FPI yang menyerang para anggota AKKBB dalam beritanya.

Sementara itu, jaringan pemberitaan ABC menurunkan berita berjudul "Indonesia faces pressure to act against extremists " (Indonesia Ditekan untuk Tindak Para Ekstrimis).

Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa sikap pemerintah dan polisi yang membiarkan para pengikut FPI meng-ancam hak azasi manusia para warga negara Indonesia mendapat kecaman para korban kekerasan, aktivis HAM dan media setempat. [ aya hasna/suara-islam.com ]
Islami | Comments:4 | Trackbacks:0 |
<<No title | HOME |

Comments

Dimana Islam selalu mengajarkan Permusuhan...Kemunafikan ciri orang Islam...Nampak hanya dipermukaan perilaku orang ISLAM Sepadan Dengan Orang YAHUDI..Mata GANTI Mata, GIGI Ganti GIGI hukum Rimba yang dipakai...JILBAB BUDAYA YAHUDI dipakai simbol WANITA ISLAM...Sungguh ISLAM AGAMA PENEBAR KEBENCIAN TERHADAP SESAMA
2009-02-19 Thu 17:52 | URL | Komunitas ayat ayat Setan [ Edit ]
Only the administrator may read this comment.
2009-03-28 Sat 22:09 | | [ Edit ]
Only the administrator may read this comment.
2009-12-09 Wed 04:28 | | [ Edit ]
Comment is pending administrator's approval.
2011-09-13 Tue 09:47 | | [ Edit ]

Post a comment















Only the blog author may view the comment.

Trackbacks

| HOME |